By angginvinari

Trip Seoul Hari Ke 3 – Makin Cinta di Nami Island

Categories : Uncategorized

Hari ketiga di seoul kami bangun tidur tidak lebih pagi dari hari sebelumnya. Berdasarkan itinerary seharusnya kami bersiap-siap dari pagi karena agenda hari ini adalah pergi ke Nami Island yang jaraknya cukup jauh dari kota seoul. Tapi kenyataan berkata lain, kami butuh tidur lebih panjang. Walau kegiatan tidur sebenarnya bisa dilakukan di rumah namun tidur di negeri orang ternyata tidak kalah nikmat.

Sarapan adalah kegiatan yang biasa kita lakukan, namun sarapan di hostel tempat kami menginap terasa spesial. Aura hiburan membuat apapun yang kita lakukan terasa meyenangkan. Tipe sarapan di hostel kami adalah self service. Untungnya di antara kami ada mba endang sang bidadari yang setiap pagi membuatkan omelet, roti bakar, dan pop mie yang kami (lebih tepatnya mba endang sang bidadari) bawa dari indonesia. Tidak diragukan mba endang adalah istri dan ibu teladan.

Terjadi drama di antara kami yang membuat waktu terbuang cukup banyak. Bukan drama pinsil alis ketinggalan di indonesia. Hal yang sebenarnya sepele namun efeknya lebih parah dari ngiris bawang pakai pisau tumpul. Drama ini ngga ada di itinerary yang saya buat tapi Tuhan maunya ada. Saya merasa kesal dan menyesal memilih mereka menjadi teman traveling saya.

Kami keluar hostel pukul 12 siang. Kami berangkat dengan wajah muram, daun maple yang berguguran di jalan terlihat tidak seindah hari kemarin. Waktu tempuh dari hostel ke nami island sekitar 2 jam menggunakan subway dengan transit di beberapa stasiun. Kami sempat salah stasiun, untungnya ada ahjushi yang membantu menunjukkan stasiun yang benar. Ternyata bukan hanya kami yang tersesat ada satu rombongan orang indonesia yang terdiri dari wanita seusia kami bersama ibu dan tantenya. Tujuan mereka sama dengan kami, jadi kami memutuskan untuk bergabung.

Entah karena korea identik dengan drama atau memang begitulah hidup. Ibu dari rombongan yang baru saja bergabung bersama kami ketinggalan kereta. Pintu subway tertutup, kami terkesima melihat sang ibu yang panik di luar kereta yang sudah berjalan. Sepertinya Tuhan sedang memberi kami pelajaran. Kami jadi takut kehilangan satu sama lain. Mendadak rasa kesal hilang, daun maple yang berguguran kembali terlihat indah.

Setelah melewati drama panjang akhirnya kami sampai di stasiun terakhir menuju Nami Island. Perjalanan belum berakhir, kami melanjutkan perjalanan ke dermaga menggunakan taksi. Tidak terlalu jauh jaraknya, biaya sekali perjalanan sebesar 3500 won. Sebelum menyebrang ke Nami Island kami memutuskan untuk makan di restoran yang ada di sekitar dermaga. Bagi muslim tidak perlu khawatir karena ada restoran yang menyediakan makanan halal.

Sebelum menaiki kapal fery kami membeli tiket di depan dermaga. Tidak panjang antrian di loket mungkin karena hari sudah sore, sudah banyak pengunjung yang pulang. Selain menggunakan uang cash, pembayaran juga bisa menggunakan kartu kredit. Biaya yang harus dikeluarkan sebesar 10.000 won perorang. Biaya yang dibayarkan sudah termasuk perjalanan pulang pergi menggunakan fery dan biaya masuk Nami Island.

Sesampai di pulau jeju kami langsung berfoto, lalu berfoto, dan berfoto lagi. Semua sudut di Nami Island sangat indah, keindahan ini tidak bisa dibawa pulang jadi kami mengabadikannya lewat foto. Apalagi coat hasil berburu di namdaemun market yang warnanya meriah terlihat bagus di camera. Fasilitas yang tersedia di nami island diantaranya restoran, toko souvenir, toilet, perpustakaan dan musola.

Perpustakaan dekat musola di Nami Island

 

Coat yang kami pakai saat di nami island adalah coat yang kami beli di ahjuma pasar namdaemun. Kami terlihat bagus di kamera memakai coat berwarna gonjreng. Ada sesuatu yang mungkin bisa jadi pertimbangan saat memilih pakaian. Pagi itu kami merasa keren dan percaya diri memakai coat berwarna gonjreng, namun saat sampai di stasiun subway kami baru menyadari kalau kebanyakan orang memakai coat berwarna gelap atau kalem seperti hitam, abu-abu, dan coklat. Kami salah kostum, seketika rasa percaya diri turun drastis. Ada beberapa orang yang memakai coat berwarna gonjreng dan setelah diperhatikan ternyata rata-rata mereka adalah ahjuma-ahjuma alias wanita paruh baya. Sejak saat itu kami menjuluki geng kami, “geng ahjuma gonjreng”. Sedih tapi lucu.

Tidak banyak tempat yang bisa kami explore karena langit sudah gelap tanda kami harus pulang. Kalau ada kesempatan ke korea lagi saya akan datang lebih pagi agar bisa lebih lama berkeliling Nami Island. Kami pulang dengan rute yang sama, namun seperti ada yang aneh dengan subway yang kami naiki. Tidak seperti subway yang biasa, susunan kursi di kereta ini berbeda, lebih eksklusif dan ada toilet di salah satu gerbong. Kami duduk di gerbong bertoilet karena ruang berkursi sudah penuh. Di gerbong toilet ada beberapa anak muda korea yang duduk di lantai dan kamipun mengikuti mereka karena kaki kami pegal habis berjalan jauh. Tidak beberapa lama ada kondektur yang meminta tiket, kami kaget karena kami sudah men-Tap kartu E-Money kami saat masuk stasiun tadi. Ternyata kami salah naik kereta, yang kami naiki bukan subway jadi kami harus membayar ongkos sebesar 4000 won perorang. Begitulah korea, penuh drama.

Senderan depan toilet - kami lelah